Ternyata Tidak Hanya 5W 1H Saja

    427

    Ditulis oleh Kisworo Yudi

    Sabtu kemarin, dihari terakhir mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) ke XXII yang dihelat oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, saya baru mengetahui perbedaan pelaku jurnalistik dan penggiat media sosial.
    Ternyata dunia jurnalistik itu bukan sekedar memenuhi 5W 1H saja, ada tatakrama dan cara yang harus dijaga, ada kode etik jurnalistik (KEJ) yang tidak boleh dilanggar, ada kaidah pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA), jurnalis juga dituntut untuk indevenden, menolak intervensi dari pihak manapun juga termasuk pemilik perusahaan.
    Dalam menuangkan karya jurnalistiknya, jurnalis harus selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah, ini yang membedakan dengan penggiat media sosial yang berdasarkan kehendaknya mengexpose sesuatu di media daring tanpa pertanggung jawaban, mengarah tendensius, dan menghakimi, sehingga bisa terancam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

    Beda dengan pelaku Jurnalistik, istimewa, dilindungi oleh undang-undang, dan mempunyai hak untuk menolak ketika berurusan dengan hukum terkait dengan profesinya. Tapi hak istimewa ini hanya berlaku selama si Jurnalis berpedoman dengan KEJ, menjunjung azas praduga tak bersalah, dan mematuhi PPRA, serta tidak menyalahgunakan profesinya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.

    Memang kemarin tidak semua dari kami lulus UKW, tapi itu bukan berarti kawan-kawan tidak berkompeten, hanya saja kawan-kawan seperjuangan kemarin tidak fokus dengan lembar kerja yang dihadapinya. Karena jujur, sayapun baru mengetahui dari berlembar-lembar peraturan yang harus ditaati oleh pelaku jurnalistik yang saya dapat dari searching di Google, karena pada dasarnya profesi jurnalis itu dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi, tidak hanya berhenti disatu titik.

    Dan UKW bukanlah tujuan akhir, ada jenjang dan tahapan yang berposes, pada akhirnya saya hanya menyimpulkan pengalaman adalah guru, dan Buku-buku ilmu sebagai landasan pemahamannya.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini