Pupuk dan Musim Tanam

    391
    Musim tanam tiba, tapi tidak berbanding dengan ketersediaan pupuk bersubsidi

    LAMPUNG UTARA – Musim penghujan datang tanpa pesan, usai kemarau panjang memanggang bumi. Tanah retak berlahan menggembur diguyur air langit yang deras, aliri sungai hingga pematang sawah, Petani sumringah karena bertanda saatnya musim tanam.
    Gembur petak sawah yang membasah tidak juga membuat sebagian petani Desa Surakarta dan Desa Bangunsari Kecamatan Abung Surakarta Lampung Utara (Lampura) tersenyum, karena meski bibit yang telah mereka semai mulai ditanam, pupuk sebagai zat penunjang subur tanaman tiba-tiba menghilang seperti hanyut terbawa hujan yang deras belakangan ini.
    Ujang (38) petani sekitar desa tersebut, begitu resah karena padi yang mulai ditanamnnya tidak mungkin menghasilkan bulir padi yang rimbun dan gemuk, bila tidak diberikan pupuk bersubsidi dari pemerintah.
    ” Musim yang bagus, tapi tidak diiringi stok pupuk bagi petani. Saya sudah keliling mencari pupuk phonska dan TSP tapi tidak ada yang menjual ” keluh Ujang, minggu (9/2)
    Padahal pupuk phonska dan TSP adalah pupuk penunjang tumbuh suburnya tanaman, jika tanpa pupuk subsidi tersebut jangan pernah bergarap petani mendapatkan hasil yang melimpah.
    ” Kami ini kecil yang tergantung dengan pupuk subsidi, bukan koorperat bermodal besar mampu membeli pupuk non-subsidi. Harusnya pemerintah sudah menyiapkan ketersediaan pupuk subsidi bagi petani kecil, bukanya mereka sudah mengantongi jumlaj keterbutuhan pupuk bagi kami ” kata Ujang.
    Ternyata angka keterbutuhan pupuk diatas meja tidak sebanding dengan kenyataan dilahan, seharusnya pupuk bersubsidi untuk petani tercukupi dimusim tanam. Ini jelas minimnya monitoring dinas terkait pendistribusian pupuk subsidi bagi petani.
    ” Harga HET pupuk phonska bersubsidi sebenarnya cuma Rp.115 ribu, dan pupuk TSP Rp.100 ribu perzak, tapi meski tembus diangka Rp.150 ribu pupuk tersebut tirak ada dikios pupuk, walaupun ada jenis pupuk yang sama tapi nonsubsidi dengan harga yang tidak mampu kami beli ” tukas Ujang.
    Dia berharap pemerintah dapat memonitoring pendistribusian pupuk secara teliti, karena masyarakat didesa kebanyakan bernotabene sebagai petani yang berketergantungan keoada pupuk bersubsidi.
    ” Saya dan petani kebanyakan selalu berharap disetiap musim tanam pemerintah dapat mencukupi pupuk subsidi bagi petani ” pungkasnya.
    Diketahui pupuk merupakan salah satu bahan atau zat yang sangat dibutuhkan oleh petani untuk menyuburkan tanaman. Sayangnya, kian hari, harga pupuk semakin mahal, baik non-subsidi maupun yang bersubsidi. Petani cenderung menggunakan pupuk subsidi karena harganya relatif terjangkau, dan memakai pupuk non-sidi untuk kepentingan mendesak.
    Entah kurangnya monitoring dari pemerintah, atau ada diatributor nakal yang mempermainkan kebutuhan pokok petani ini, tapi sudah waktunya memikirkan ketersediaan pupuk untuk petani, karena sebagian dari masyarakat Lampura berprofesi sebagai petani. (KIS)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini